Postingan

Lebih Indah Dari Dunia

 Oleh : Khaidar Naufal Pasingsingan                 Seppatu kecil tergeletak di teras gubuk kecil, pikiran kecilku tak mampu untuk menemani bekerja. Parasmu yang indah bak bidadari untuk ayahku di surga. Hati yang suci mewarnai isi pikiran dan hati sang remaja. Tangisnya dulu menandakan engaku sedang bahagia menggendongnya. Bulan yang indah menyinari bumi yang sunyi nan gembira, melihat sang mutiara ada di dunia. Kupu - kupu terbang di desa sebagai lantunan nada dan irama. Sang mutiara pun bersinar di pelukanya. Tak kusangka, dunia sudah mulai menua dan burung tak lagi bersua. Angin muncul dengan lemah lembut tak ada suara. Bertanda cintaku kepadanya tak akan sirna.

Kaca Mata

  Oleh: Khaidar Naufal Pasingsingan  Menjelang senja ku tak tau namanya, Rintikan hujan menafsirkan rasa di dalam nuwansa lara. Yang menyinari senyumu di dalam rindu. Langkahmu yang mendayu – ndayu bak putri yang ayu. Air dimata sungguh tak berdaya, dan   sederhana yang tak membuat lara. Pelukan mendekat yang tak berujung sesat, Surat pipipun merona mempunyai arti yang tersirat. Pakai jaketmu untuk hati sang pemikat, Agar rinduku didalam hatimu lebih hangat.   Yogyakarta,25 Desember 2021

Bingkai Tua Di Yogyakarta

Oleh: Khaidar Naufal Pasingsingan Kicauan burung itu masih ada , menjelma diantara kursi tua yang rapuh termakan usia. Matamu seakan berbicara di atas penderitaan burung di sangkarnya, Dan hatimu lembut bagaikan sutra. Berjemur di bawah sinar surya untuk menyelamatkan fikiranya. Tangan keriput membuat rumah sulit diangkut. Berjalan – jalan di aspal yang rusak, aku tau kau terdesak. Kursi roda itu menjadi saksi untuk tidur yang semerbak.   Kucing pergi meninggalkan minti, Berbaring di nasib berduri meratapi awan yang telah mati. Prasastimu tak henti – henti untuk menusuk kelenjer abadi, berbicara layaknya primadona yang tak terganti. Lentara menyinari wadahnya sendiri, lilin melelehkan badanya sendiri, jiwamu melukai dirimu sendiri, sepeda kecilku pun kau perbaiki dengan sedenyut nadi.   Yogyakarta,25 Desember 2021

Kaca Dan Hati

Oleh : Khaidar Naufal Pasingsingan Tak tau yang aku hasilkan,  disaat ia pergi menghilang, disaat ku ter sayang terjadi gesekan rel kereta dalam canda. Pagi menerjang bumi yang tak layak di tinggali. Tak banyak yang ku harap, secangkir teh kau buat manis di pelukanya. Hujan deras memeras berlian, prasasti yang kau jadikan lembu perkasa. Sakit membelit, air mata tertawa. Bagong dan semar bergerak diarak, ilalang bergerak dari dalang. Memberikan firasat untuk anaknya yang tersesat, hati berlabu mencari nada yang kau ikat dengan sendu. Berjalan dialam fana dengan radio tua, burung disangkar menunggunya agar tak bersua. Sepatu kecil menjadikan alasan betapa indahnya sang pemuja. Hanya ada engkau yang bercanda dengan si nenek tua, menjelma dikursi lama nan bahagia. Secangkir berdua angin berhembus, berdansa diatas sang primadona. Daun kering berjalan tak tahu tujuan, bulan pun menemani dikala sendu. Lara imaji seumpama menjadikan arloji berputar. Di tengah hati beersua nan lara, kujaga ...