Kaca Dan Hati
Oleh : Khaidar Naufal Pasingsingan
Tak tau yang aku hasilkan,
disaat ia pergi menghilang, disaat ku ter sayang terjadi gesekan rel kereta dalam canda.
Pagi menerjang bumi yang tak layak di tinggali.
Tak banyak yang ku harap, secangkir teh kau buat manis di pelukanya.
Hujan deras memeras berlian, prasasti yang kau jadikan lembu perkasa.
Sakit membelit, air mata tertawa.
Bagong dan semar bergerak diarak, ilalang bergerak dari dalang.
Memberikan firasat untuk anaknya yang tersesat, hati berlabu mencari nada yang kau ikat dengan sendu.
Berjalan dialam fana dengan radio tua, burung disangkar menunggunya agar tak bersua.
Sepatu kecil menjadikan alasan betapa indahnya sang pemuja.
Hanya ada engkau yang bercanda dengan si nenek tua, menjelma dikursi lama nan bahagia.
Secangkir berdua angin berhembus, berdansa diatas sang primadona.
Daun kering berjalan tak tahu tujuan, bulan pun menemani dikala sendu.
Lara imaji seumpama menjadikan arloji berputar.
Di tengah hati beersua nan lara, kujaga bunga yang layu.
Kupu - kupu terbang di tengah nada dan irama, senyumu pun juga tak bertanda di pelukan layar kaca.
Mata yang terbenam di samudra lautan abadi.
Ada apa dengan raga ini di bumi yang mesra, malam sunyi pun menghantui di kala mata tak bisa bermanja.
gemerlap mimpi menandakan jiwamu masih terbaring sendiri, dan yang aku harap janganlah engkau sembuh dari candu ini.
Percayalah, bintang pun menemani dengan secangkir kopi.
Sleman,12 Februari 2021